Solidaritas Membunuh Komunitas Tuna Rungu

Keterbatasan fisik ternyata tak identik dengan ketidakberdayaan. Kelemahan yang dimilikinya bahkan bisa berubah menjadi kekuatan yang susah dicerna akal sehat. Kejadian ini dialami seorang gadis tuna rungu di Sumatra Barat. Siapa nyana Marlena atau yang akrab dipanggil Lena ternyata otak di balik kasus pembunuhan yang terjadi Februari silam. Ironisnya, korban adalah pamannya sendiri, Bazrizal [baca: Gadis Tuna Rungu Membunuh Paman]

Kasus ini terkuak saat warga di tepi jurang dekat Kawasan Kelok 9, Kabupaten 50 Kota, Sumbar, menemukan mayat laki-laki tanpa identitas. Ketika ditemukan, di sekujur tubuh, leher dan kepala pria ini penuh dengan luka tusukan benda tajam. Personel Kepolisian Resor 50 Kota yang menyelidiki kasus ini awalnya kesulitan mengidentifikasi korban karena tak ada satu pun identitas yang ditemukan. Bahkan, polisi sempat menduga korban adalah anggota TNI. Ini berdasarkan penemuan jaket loreng di sekitar jasad korban.

Untuk itu, kata Kapolres 50 Kota Ajun Komisaris Besar Polisi Priyo Widyanto, pihaknya sempat melakukan koordinasi dengan TNI. Namun dua minggu kemudian, seorang warga mengaku mengenal korban. Mayat tanpa pengenal itu belakangan diketahui bernama Bazrizal warga Singkarak. “Yang melapor itu Afrizal anak korban,” kata Widyanto.

Keluarga Bazrizal awalnya tak menyangka mayat itu adalah anggota keluarganya. Mereka mulai merasakan keganjilan saat almarhum yang berprofesi sebagai pengrajin pisau dapur tidak pulang ke rumah selama hampir satu minggu. Afrizal anak pertama korban lalu mendesak salah satu teman ayahnya, Tuti, untuk menceritakan nasib yang menimpa ayahnya. Dari Tuti inilah mereka mengetahui jika Bazrizal sebenarnya sudah tewas dibunuh.

Hanya dengan berbekal secuil informasi polisi langsung bertindak cepat. Tim Reserse dan Kriminal Polsek Harau segera mencari pelakunya. Tak lama kemudian polisi mendapat keterangan berharga bahwa orang yang diduga pelaku sering berkumpul di salah satu rumah kos di Kota Payakumbuh.

Pelaku pembunuhan ternyata semuanya berjumlah delapan orang. Mereka adalah Fauzy dan Dony yang berperan sebagai eksekutor. Kemudian Tuti yang membantu mendorong korban ke jurang. Sedangkan, Debi Wahyudi, Alfianda, Musrifa, Almera dan Marlena atau Lena hanya melihat tanpa ikut membantu mengeksekusi korban. Otak pembunuhannya adalah Lena. Yang mengherankan, para tersangka seluruhnya tuna rungu.

Saat ditangkap, mereka memang hanya bisa terdiam tanpa melakukan perlawanan apapun. Namun, polisi mulai merasa kesulitan saat akan memeriksanya. Pasalnya, para pelaku adalah komunitas bisu. Akhirnya, polisi meminta bantuan Muldianis dan Sri Pujiwati, dua penerjemah dari Sekolah Luar Biasa Tarantang, Kecamatan Harau untuk melancarkan proses pemeriksaan. “Lewat bantuan inilah kami bisa mendapat keterangan siapa tersangka utamanya,” tutur Widyanto.

Dari hasil pemeriksaan, mereka–terutama Lena–mengaku dendam yang berkepanjangan terhadap Bazrizal. Karena itu Lena terpaksa harus menghentikan tindakan semena-mena sang paman dengan cara sendiri. Melalui komunikasi dengan Muldianis dan Sri, Lena tega membunuh pamannya karena kesal dianiaya terus. Tak hanya itu, Lena juga mengaku pernah diperkosa Bazrizal sebanyak tiga kali. Setelah itu dia diajak kawin lari. “Tapi, saya tidak mau karena masih bersaudara,” kata Lena dengan gerakan tangan dan isyarat.

Sedangkan, Dony dan Fauzy mengaku mau membunuh karena diminta tolong oleh Lena. Bahkan, menurut Fauzy, dua hari setelah pembunuhan dia dan Dony diberi uang masing-masing sebesar Rp 250 ribu. Sementara tersangka lainnya Tuti, terpaksa melaporkan semua perbuatannya kepada anak Bazrizal karena terus dihantui rasa takut terutama setelah polisi menemukan jasad korban.

Dalam peragaan yang dilakukan tersangka, pembunuhan itu berlangsung sekitar pukul 01.00 WIB. Korban sengaja dibawa ke area yang sudah dipilih. Fauzi dan Dony kemudian mendekap Bazrizal dan menebaskan parang ke kepalanya. Korban pun tersungkur walau sempat melakukan perlawanan dengan menendang perut Dony. Tapi, karena Fauzi tetap mencengkeramnya dari belakang, Dony dengan leluasa menghujani korban dengan tiga tusukan dibagian dada, perut dan jantung. Setelah korban tewas mereka kemudian membuang jasad Bazrizal ke tepi jurang. Sedangkan lima tersangka lainnya hanya menyaksikan dari jauh.

Kematian Bazrizal sempat diratapi Kasmawati istri pertama korban. Meski telah bercerai sembilan tahun silam, warga Desa Majusingkarak, Kabupaten Solok, Sumbar, ini tetap menyesali kepergian mantan suaminya. Kasmawati mengaku almarhum memang kerap berbuat kasar kepada dirinya termasuk saudara-saudaranya. Alasan inilah yang membuat dia tidak mampu mempertahankan ikatan perkawinan. Bazrizal kemudian menikah dengan wanita lain bernama Supi.

Rasa sesal juga ditunjukan Mawardi Kepala Sekolah Luar Biasa Payakumbuh dan Tati salah seorang gurunya. Menurut Tati, rasa solidaritas di antara anak-anak tuna rungu memang sangat tinggi. Apalagi jika ada salah seorang yang disakiti. Sedangkan Mawardi, meminta kepada polisi agar dalam mengusut kasus ini selalu memperhatikan akar persoalannya.

Lena dan ketujuh rekannya memang terlihat tidak mengekspresikan rasa penyesalan. Yang ada dibenaknya kini tak ada lagi orang yang akan menyiksa dan memperkosanya. Meski, hal itu harus ditebus dengan kurungan di balik jeruji besi.SUMBER : LIPUTAN 6.COM

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: