Tuna Netra Juga Mampu Main Catur

Cacat tidak menghalangi Boyke berprestasi. Kendati cacat netra, Boyke selain mampu beraktivitas seperti orang normal juga piawai mengatur bidak catur. Boyke mengaku belajar olahraga asah otak itu sejak duduk di bangku sekolah dasar, sehingga tak heran bila ia banyak menjuarai sejumlah pertandingan catur. Salah satunya juara pertama lomba catur massal antara para penyandang cacat dengan Grand Master Catur Nasional, Sutanto, di Jakarta, Jumat (24/11).

Selain olahraga catur, sejumlah rekan Boyke sesama penyandang cacat netra pintar bermain tenis meja. Mereka bisa bermain dengan mengandalkan indera pendengaran. Sedikit modifikasi pada bola dan teknik, cabang tenis meja menjadi permainan mengasyikan buat mereka.

Sosok lain yang layak diacungi jempol adalah Muhammad Rais. Pada 2002, Rais tiba di Jakarta untuk mengikuti kursus pijat. Tapi seorang teman menawari dirinya untuk belajar komputer. Kini Rais yang buta sejak usia dua tahun sudah mahir menggunakan komputer.

Kondisi Boyke dan Rais menjadi contoh cacat bukan penghalang untuk menikmati hidup. Para penyandang cacat bisa mandiri asal mendapat pendidikan seperti yang intensif dilakukan Yayasan Anak Cacat Jakarta. Selama hampir 52 tahun yayasan ini mendidik penyandang cacat tubuh ganda atau tuna daksa. Hasil kerja para relawan terlihat dalam peringatan ulang tahun yayasan, hari ini. Para penyandang tuna daksa begitu ceria memperlihatkan aksi menari dan menyanyi.

Amin Karansa (16 tahun), salah satu contoh anak hasil binaan Yayasan Anak Cacat Jakarta. Amin divonis menderita kerapuhan tulang sehingga hidupnya tak bisa lepas dari kursi roda. Meski begitu, Amin yang kini duduk di Sekolah Menengah Umum Luar Biasa tergolong murid cerdas. Dia selalu meraih ranking pertama dan menjuarai berbagai lomba cerdas cermat tingkat provinsi. �

Selain Amin, masih ada Lusiana yang mampu mandiri, meski sulit berbicara dan mengatur gerak motoriknya. Wanita ini sudah lama mengidap kelayuan otak. Tapi berkat dukungan keluarga, Lusiana tetap bersemangat menjalani hidup. Kondisi pada Amin dan Lusiana membuktikan bahwa orang cacat bukan berarti terbuang dari lingkaran kehidupan.
SUMBER : LIPUTAN6.COM

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: