Mengawal Anak Special Need Sampai Lulus SD

Pengalaman mengajar anak SN komunikasi dengan visualisasi.
Setelah Yansen menguasai bagian tubuhnya, kami mulai mengajarkan benda benda
sekitarnya yang terlihat (visual object) misalnya meja, lemari, kasur, bantal, guling, bangku, baju, buku, lampu, kipas angin dll. Pokoknya semua yang dapat dilihat mata yang berupa benda kami perkenalkan dan ajarkan untuk meniru dan mengucapkan-nya. Dan Rupanya memori visualnya itu kuat. Apa yang pernah Yansen lihat secara visual dia hafal, jadi metodenya disebut PECS ataupun apalah istilahnya kami ngak tahu, tapi yang jelas anak bisa mengerti dan ada kemajuan.

Kami melihat ada kemajuan yang pesat dan pertambahan perbendaharaan katanya
terus meningkat, dan dalam waktu setengah tahun (waktu Yansen berumur 3,5 tahun), dia sudah bisa mengenal mamanya, papanya, bahkan tantenya oma opanya, om-om nya, sepupu-sepupunya dan orang yang ada disekitarnya. Hal ini bisa kami buktikan saat kami menunjukan foto keluarga kami dan menunjuk orang orang tertentu dia langsung jawab ini tante anu, ini om anu, ini mama, ini papa, kalaupun ada yang lupa kami ingatkan lagi, setelah diulang ternyata sudah hafal.

Setelah semua yang ada di rumah dia kuasai, kami mulai membawa Yansen keluar
rumah sambil belajar apa saja yang bisa dilihatnya, contoh ke super market anak kami naikan di kereta dorong sambil belanja, saya ajarkan untuk ditirukan misalnya di stand buah buahan sambil tunjukan objecknya saya sebut ini apel, ini mangga, ini jeruk, ini anggur, ini melon ini semangka, ini pepaya, ini wortel dstnya. Pokoknya visual objeck, dan untuk membuktikannya kami beli gambar buah buahan yang dibawahnya ada tulisannya. Di rumah kami tanyakan kembali ini apa sambil menunjukan objectnya ternyata dia tahu dan bisa jawab. Atau kalau ada yang lupa diulang lagi tidak lama ternyata hasilnya bagus.

Jadi kalau saya lihat menurut pengalaman kami, suasana harus ketika anak sedang senang sehingga bisa enjoy. Jadi kalau anak lagi tidak mood berhenti dulu, jangan dipaksakan waktunya harus berapa jam sehari dan monoton, tapi kalau anak lagi tidak konsen release aja percuma habiskan energi hasilnya minim sekali.

Selanjutnya kami mulai ajarkan kata kerja, bagaimana caranya? Kalau kata benda relatif mudah ada wujudnya tinggal kita tunjukan dan ucapkan, tetapi kata kerja ya harus diberi contoh sambil kita kerjakan misalnya: makan sambil memasukan sesuatu ke dalam mulut dan mengunyah terus ditelan, secara alami dia sudah lakukan tapi tindakan itu disebut “apa”, kita ajarkan. Saat mandi ada beberapa kata kerja masuk km, siram air, gosok sabun, sikat gigi, kemudian pakai handuk, keringkan badan, pakai bedak, pakai celana, pakai baju, pakai kaos kaki, pakai sepatu sambil memberi perintah kerja sekaligus motoriknya. Tentunya pertama kali kita bantu dulu pakai baju dan suruh dia kancingin, pakai kaos kaki kita masukin separuh dia suruh naikkan, kemudian dirapihkan.

Tahap berikutnya setelah anak kami mengerti perintah kerja, kami mulai mengajarkan membedakan (kata sifat & keterangan) mulai dengan membedakan warna, ini mesti hafal ;: kuning, merah, hijau, biru, dan tidak terlalu sulit sebab semua mainan pasti warna warni. Setelah hafal, kita tinggal sosialisasikan pada mainannya ini warna ini, ini warna anu dan umumnya cepat hafal, karena warna memang menarik perhatiannya tetapi kalau kata sifat agak susah misalnya basah dan kering, panjang dan pendek, cepat dan lambat, terang dan gelap. Bagaimana caranya supaya anak SN bisa nangkap, kalau pengalaman kami tetap harus pakai bantuan visual contoh cari gambar yang ada opositnya, kami tunjukan tinggi dan rendah misalnya gambar pohon, gemuk dan kurus gambar 2 orang yang satu gemuk yang lainnya kurus. Kalau kering dan basah agak susah visual digambar jadi praktek langsung baju kita rendam air, atau siram air jadi basah, kemudian kita jemur jadi kering, terang dan gelap kita praktekan pasang lilin lampu matikan ada terang lilin kemudian tiup jadi gelap dstnya

Jadi semua terapi kami lakukan sendiri, dengan visualisasi, jadi kalau ditanya metode kami ngak tahu, boleh jadi Picture/visual Exchange communication system. Tanya yang pakar yang jelas anak kami ada kemajuan. Kalau kontak mata kami latih tiap pagi habis mesbah keluarga, saya sebagai Imam di keluarga memberkati istri dan anak anak, dan untuk Yansen special treatment biasanya setelah doa bersama dan terima berkat kami saling merangkul dan mengatakan papa mengasihi Yansen dan sebaliknya diantara anggota keluarga lainnya, kemudian giliran Yansen saya suruh tatap mata papa dan aku menubuatkan “Engkau diberkati makin hari makin baik, makin besar makin baik, engkau bisa bersosialisasi, bisa berinteraksi, berkomunikasi dengan baikWaktu anak kami berumur 3 tahun belum bisa bicara. Setelah ketahuan AUTIS, kami mulai berpikir bagaimana mau sekolah, jadi kami memutuskan tidak masuk ke play group dulu seperti kakaknya waktu 3 tahun, tetapi kami berusaha mempersiapkan masuk TK, dan ternyata melalui pergumulan yang sudah kami ceritakan sebelumnya, menjelang umur 4 tahun semua sudah lancar, yaitu vokalnya jelas dan bahkan bisa baca dan tulis angka maupun huruf, hasil terapi sendiri melalui visualisasi, tinggal masalah tingkah laku yang belum terkendali.

Karena kami yakin anak kami secara akademis bisa, maka kami putuskan masuk TK umum. Kami cari yang paling dekat rumah, sebab kami baik papa maupun mamanya tidak bisa mendampingi waktu anak sekolah karena kami masing masing kerja. Kebetulan di sebelah rumah saya ada TK jadi kami daftarkan saja. Selain pengurusnya kenal karena tetangga sehingga pengasuhnya bebas keluar masuk untuk menemani dan mengawasi Yansen dan mengetahui perkembangannya, serta komunikasi dengan guru-gurunya pun lancar karena sudah familiar.

Jadi untuk Tk tidak ada masalah, karena bukan program sekolah formal. Makad ari itu, saran saya, kalau bapak ibu mau masukan anaknya ke TK carilah yang paling dekat rumah dan pengurusnya familiar, supaya informasi cepat sampai ke kita sebagai ortu dan kalau ada masalah cepat teratasi karena aksesnya dekat. Pengasuh Yansen bukan terapis cuma kami terus kasih input untuk penanganan anak Autis dari informasi-informasi yang kami dapat dari berbagai sumber, jadi bener-bener praktisi amatiran.

Soal makanan kami perhatikan dan menghindari gluten,casein. Vetsin sudah tidak
ada di dapur kemudian juga gula sangat mempengaruhi aktifnya anak, susu dan
terigu juga hilang dari menunya Yansen. Kami juga menghindari jajanan dan 90% masak sendiri oleh pengasuhnya, kami hanya kasih uang belanja secukupnya, kalau ada kekurangan baru ditambah, misalnya beli ayam kampung dan buah buahan.
Rupanya Yansen suka buah buahan hampir semua doyan terutama yang mahal-mahal
seperti anggur, apel, strawbery, palm, pear kecuali durian wah yang satu ini dipaksa pun akan dikeluarkan dari mulutnya.

Pada waktu balita Yansen susah minum obat, apalagi yang pahit dan pekat sekali baunya, jadi kalau deman atau pilek pakai obat sirup yang rasanya dia suka. Tidak ada suplemen yang kami kasih maupun obat penenang hiperaktif semacam risperdal atau kawanannya, DMG pernah dikasih waktu mula-mula terdeteksi atas saran dr HDP tapi itupun sudah dihentikan karena susah tidur dan tambah aktif.

Kondisi di rumah jangan ditanya seperti kapal pecah tiap hari, ngak bisa rapi sebab apa yang dikeluarkan dituang ke lantai dan tidak mau orang lain yang membereskan. Jadi harus dia yang melakukan dan pengasuhnya hanya mengawasi agar dia tidak menjamah barang yang berbahaya, sebab Yansen suka main alat listrik dan bahkan colok steker ke stop kontak. Waduh tidak gampang menjaganya, meleng dikit bisa kecolongan ha ha ha. Siapa bilang ngasuh anak SN lebih gampang hayo ???

Rutinitas menjadi bagian yang belum bisa dilepaskan waktu itu. Nyalakan AC harus dia yang lakukan, kalau ac sudah nyala dan bukan Yansen yang on kan malam itu jadi masalah. Pokoknya dia tidak bisa terima walaupun dimatikan dulu setelah itu baru dia nyalakan lagi. Maunya dari awal bagian dia tidak boleh terjamah yang lain. Coba rasakan nangisnya sampai lewat tengah malam, sampai dia cape baru tertidur. Besok ingat lagi mulai ngadat lagi. Siapa yang kuat, ayo coba satu malam saja !

Inilah sedikit menelusuri liku liku mendidik anak SN. Kadang kami merasa cape, lelah dan tidak tahu harus berbuat apa. Pada saat kondisi begini kami masuk “pemberhentian” mencari saat teduh, sehingga rohani kami dicharge untuk merenungkan Firman Tuhan yang dapat menjadi sumber kekuatan kami.

Peraturan Depdiknas tidak mensyaratkan penerimaan anak SD dengan ijazah TK. Tetapi TK sangat penting apalagi buat anak anak SN yang mau sekolah umum, sebab waktu TK lah pondasinya dibangun, bukan nilai akademiknya saja tetapi perkembangan daya pikir, perkembangan daya cipta, pengembangan dan pembentukan prilaku, perkembangan kemampuan dasar berbahasa dengan menyanyi, ketrampilan motorik halus dengan menempel gambar, menggunting dsb. juga keterampilan motori kasar dengan melompat, main plosotan dll. Semua itu termasuk terapi karena anak kami tidak ikut terapi khusus, jadi waktu di TK itulah kami anggap sedang terapi dan saya lihat banyak kemajuan yang dicapai sebagaimana yang ditulis dalam Laporan Perkembangan Anak Didik Taman Kanak Kanak setiap caturwulan/semester.

Sosialisasi juga bagus sebab waktu TK B Yansen sudah kenal nama nama temannya juga guru-gurunya, bahkan waktu Yansen Ultah ke 6 gurunya meminta dirayakan bersama-sama teman TKnya dan tempatnya disekolah. Di akhir acara ada foto bersama yang menjadi kenangan manis.

Waktu TK B Yansen sudah bisa matematika sederhana yaitu menjumlah dan
mengurangi yang juga diajarkan lewat gambar (mis 3 buah apel + 4 buah apel =
……….apel). Yang saya lihat anak kami sangat kuat memorinya jadi untuk
matematika dia jago. Untuk dikte satu kata bisa diikuti tapi kalau dikte kalimat ampun belum bisa. Bagaimana dengan tes IQ? Wah sulit sebab banyak perintah yang tidak diikuti, jadi hasilnya kecerdasan hanya 61 dan tes ke dua nilai kecerdasan 88.
Untuk anak SN tes IQ jangan jadi barometer, dan yang penting bisa ikuti dulu, dan ada kemajuan dan saya setuju sama ibu Ita jangan ditargetin nanti anak stres dan ortupun stres bisa berabe….kate orang betawi……

Tiga bulan menjelang masuk SD kami mulai persiapkan Yansen. Kami coba bawa
ke dr Dwijo di RS Graha Medika jadi setelah divonis autis oleh dr HP waktu umur 3 tahun kami ngak pernah bawa Yansen ke dokter sampai menjelang 6 thn kurang 4 bulan kami konsultasi dengan dr Dwijo. Melihat kemajuan Yansen Dr Dwijo menyarankan ikut terapi perilaku di kelompok smart miliknya waktu itu masih
di tanjung duren dan hanya 3 bulan terapi disana seminggu 3x, setelah itu kami kembali ketemu dr Dwijo dari hasil terapi yang telah dilaporkan kesimpulannya Yansen sangat banyak kemajuan. Puji Tuhan tidak ada yang mustahil bagiNya.

Walaupun demikian tidak berarti semua beres sifat autistic yang masih menempel adalah tingkah lakunya yang belum terkendali menjadi kendala dan pergumulan kami sampai hari ini (kalau masuk rumah orang ngak peduli punya siapa langsung terobos
sampai ke kamar dan semua ruangan maksudnya untuk observasi tapi melanggar
tata kesopanan). Ini pergumulan kami yang masih harus diperjuangkan. Mungkin ada yang bisa bantu kami cara terapi perilaku yang cespleng. Kalau ke supermarket barang yang diobservasi itu elektronik, semua dipegang, diperhatikan merknya, cara mengoperasikanya sambil baca manualnya bahkan kalau bisa setiap unit mau dicobanya dengan menghubungkan ke listrik dan switch on kemudian dimatikan di on lagi dimatikan, baru puas.

Waktu disodorkan formulir isian ditempat terapi, ada beberapa pertanyaan dan
yang menarik adalah pertanyaan APA HARAPAN ANDA terhadap anak anda setelah ini???? pilihannya adalah sbb:

  • menjadi normal seperti anak anak umumnya
  • asal bisa mengikuti pelajaran di sekolah umum
  • bisa bersosialisasi dan mandiri setelah tidak didampingi ortu
  • tidak mentargetkan apa apa asal ada kemajuan sebesar apapun diterima.

Mau tahu pilihan kami adalah yang a sebab kami berjalan berdasarkan imam Allah menciptakan manusia sempurna, jadi ada ketidak sempurnaan harus ditolak (ini bagian imam dari umat yang percaya kepada penciptaNya) Allah Maha Kuasa dan tidak ada yang mustahil bagiNya. Jadi kalau begitu yang tidak normal bisa jadi normal.

Hal-hal yang penting dalam hal mencari sekolah adalah sbb:

  • jangan cari sekolah yang favorite karena biasanya peraturannya ketat
  • cari sekolah yang cukup memadai saja, tetapi yang mau mengerti dan kerja sama
  • jangan sekali-sekali berbohong tentang keadaan anak tapi jujur sajalah
  • Persiapkan mental untuk menghadapi berbagai masalah yang bakal dihadapi berkaitan dengan tingkah laku anak waktu masuk sekolah umum, sebab yang namanya umum itu tidak ada perlakuan khusus.

Kalau kami waktu daftar, Yansen dibawa serta, saya tunjukin di hadapan kep-seknya, saya ceritakan anak saya aktif nanti kalau diterima saya minta duduk di depan dan diperkenalkan guru yang akan menjadi wali kelasnya. Ketika lihat Yansen gurunya itu tanya sudah bisa baca, karena dia sedang baca koran kompas. Yansen ditunjukin head linenya wah langsung dilahap sama Yansen berikut beritanya dan beliau langsung tertarik eh sudah pinter ya bacanya, sini ikut ibu terus disuruh baca yang lainnya, dikasih matematika semua bisa Yansen jawab dan tentunya diterima.

Tetapi diterimapun bukan semua mulus, sebab baru permulaan /awal perjalanan. Yang penting adalah bagaimana anak anak kita yang SN ini bisa diterima tidak hanya oleh kep sek, tidak hanya guru, tetapi juga teman teman sekelasnya bahkan orang tua murid. Itu lah MASALAH, RUMIT yang utama tentu saja.

Cara-cara mempertahankan Existensi anak SN di Sekolah Umum:

  • mempersiapkan anak kita dengan kemampuan mengikuti kurikulum umum
  • mempersiapkan mental baja orang tua sendiri (sebab kemungkinan problem
    sangat potensial)
  • berani membayar harga/berkorban demi kemajuan anak (siap terima kritik, keluhan,omelan)
  • tetap realistis dan bisa menerima kenyataan apapun hasilnya (jangan ngotot
    mau sempurna)
  • menjalin hubungan baik dengan semua pihak yang berkompeten.

Setelah anak SN diterima disekolah umum, bukan berarti semua beres, justru setiap waktu selanjutnya adalah pergumulan dan perjuangan panjang untuk mengawal dari awal sampai bisa mandiri (kalau bisa), melalui jalan berliku liku, disertai cucuran keringat, urut dada, kerutan kening, muka merah, muka pucat pasi, bahkan linangan air mata.

Saat masuk SD walaupun secara akademik Yansen bisa mengikuti, tetapi tingkah lakunya yang special masih nempel. Bayangkan pertama masuk ada upacara bendera anak anak semua berbaris teratur, anak kami cuma bertahan berdiri di tempatnya sebentar kemudian keliling-keliling. Memang dia tidak ganggu anak anak yang lagi upacara tapi kelakuannya membuat kami ortunya urut dada. Bagaimana ngak? apa yang terjadi sangat mengganggu suasana. Setelah Yansen masuk kelas, kami langsung dipanggil Kep Sek. Beliau langsung bilang kalau begini terus ngak bisa nih, kenapa waktu daftarkan anak bapak ngak cerita ??? Kami jawab kan waktu itu anaknya saya bawa bapak kan sudah lihat langsung dan setelah kami diinterogasi lalu diberi kesempatan. Waktu itu saya ngomong “Pak tolong beri kesempatan belajar disini, saya jamin anak saya ini makin hari makin baik”.

Hari pertama berlalu, kami masing masing pergi kerja dan Yansen ditunggui pengasuhnya di sekolah sampai pulang (selama 2,5 jam tiap hari).

Hari-hari selanjutnya adalah pergumulan kami antar anak ke sekolah tunggu
sampai dia masuk kelas. Mereka harus berbaris dulu, karena sekolahnya bukan sekolah favorit jadi agak longgar ortu boleh menunggu anaknya didepan kelas berbaris sampai masuk kelas, setelah itu kami pergi kerja dan tugas jaga Yansen didelegasikan kepada pengasuhnya yang datang ke sekolah sambil bawa makanan Yansen yang dimasaknya sendiri. Kami hanya bisa berdoa Tuhan tolong anak kami
supaya dia tidak berulah aneh aneh dan menjadi berkat buat teman temannya.
Selama bulan pertama walaupun selalu ada saja problem tapi bisa diatasi oleh pengasuhnya yang setia menungguinya.

Masuk bulan kedua ternyata terjadi penggantian guru kelas, dimana guru Yansen yang sebelumnya cuti melahirkan masuk kembali dan beliaulah yang memegang kelas Yansen. Jadi suasanapun berubah lagi, hanya seminggu beliau berhadapan dengan Yansen dia ngak tahan karena belum paham kespesialan anak kami. Kabarnya sampai menangis karena tidak bisa menegor Yansen sebab dia cuek sekali dan tidak takut sama guru. Jadi kamipun kembali dipanggil Kep Sek dan berserta gurunya, inti pembicaraan kami diminta untuk cari sekolah lain, tapi kami ngotot dan bertahan dengan sejumlah argumentasi. Dan untuk kedua kalinya kami diberi kesempatan. Tetapi begitu masuk bulan ketiga gurunya ada masalah lagi. Alasannya Yansen sering keluar kelas pada saat pelajaran dan itu kenyataan yang kami tidak bisa sangkal. Karena begitu tugas yang diberi selesai dikerjakan dia pasti ngak betah duduk manis dan kejadian meninggalkan kelas tidak bisa dicegah.

Dipicu oleh masalah Yansen yang ngamuk karena diganggu anak anak yang nakal dan usil yang mengakibatkan Yansen berteriak teriak di kelas, ,maka kamipun dipanggil untuk ketiga kalinya. Dan kali ini pihak sekolah sudah sepakat meminta kami pindah begitu caturwulan pertama, dan pihak sekolah bersedia mengembalikan uang pangkal yang pernah bayar.

Waktu kami menghadap sidang guru-guru dan Kep Sek, kami menolak dipindahkan
catur wulan 1 dan kami minta diberi kesempatan sampai satu tahun dengan kesepakatan kalau Yansen bikin masalah sebelum tahun pelajaran berakhir tidak ada kompromi lagi. Dan kamipun menerima syaratnya walaupun dengan linangan air mata.

Hal yang bisa kami lakukan adalah berdoa, berdoa dan berdoa tidak ada yang lain, dan disini kami saksikan bahwa kuasa doa itu dasyat. Tuhan mendengar doa-doa kami, kemudian membuka jalan dimana kami bisa menjalin hubungan dengan wali kelasnya kami ke rumahnya, dan meminta beliau memberikan les kepada Yansen sehabis pulang sekolah, dan mengambil tempat di rumah kami dan ternyata gurunya senang. Anak anak yang lain juga ikut les dirumah kami dan hubungan baikpun terjadi antara kami, gurunya dan juga teman temannya,bahkan dengan sesama orang tua murid karena sering antar anak ke rumah kami.

Tuhan itu baik. Untuk selanjutnya Yansen menjadi primadona di sekolahnya. Dia dikenal tidak hanya teman-teman kelas satu tetapi semua murid kenal Yansen dan mau bersahabat dengannya, mau membantunya,dan menjaga orang yang mau mengganggunya bahkan guru-gurunya semua senang dengan anak kami. Mereka berebut minta cium kalau Yansen masuk ke kantor guru. Sampai-sampai ada orang tua yang bertanya apakah Yansen itu cucunya yang punya yayasan kok bebas keluar masuk kantor guru dan semua guru mengenalnya dan memperlakukan dia dengan baik. Akhirnya guru gurunya mengerti bahwa yang bermasalah itu bukan Yansen tetapi ada anak anak yang nakal yang suka ganggu Yansen sehingga dia bisa ngamuk dan berulah dikelasnya

SUMBER : PUTRAKEMBARA.ORG

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: